Lestarikan Tradisi dan Lingkungan, Inovasi Kokurikuler di MTsN 6 Kulon Progo

23 Januari 2026 Devy Eka Nurmalasari 16

Lestarikan Tradisi dan Lingkungan, Inovasi Kokurikuler di MTsN 6 Kulon Progo

Kulon Progo (Humas MTsN6KP) – MTsN 6 Kulon Progo terus memperkuat kreativitas siswanya melalui program kokurikuler yang aplikatif. Pada Jumat (23/1/2026), madrasah ini menggelar agenda eksplorasi potensi daerah yang berfokus pada dua aspek utama: pelestarian kuliner nusantara dan pengelolaan limbah menjadi barang bernilai guna.

Program ini dirancang untuk menanamkan kemandirian (life skills) serta menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan lokal sejak dini. Dalam kegiatannya, siswa tidak hanya belajar mengolah makanan, tetapi juga melakukan riset mendalam mengenai filosofi dan nilai gizi masakan tradisional Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya membentengi generasi muda dari ketergantungan pada makanan cepat saji.

Kepala MTsN 6 Kulon Progo, Muhammad Muslich Purwanto, S.Ag., M.Pd., menekankan pentingnya pengenalan identitas bangsa melalui literasi pangan. "Kami ingin siswa mengenali jati diri bangsanya melalui lidah mereka sendiri. Mencari dan mendalami menu masakan lokal adalah langkah awal untuk mencintai produk dalam negeri," jelasnya.

Paralel dengan literasi pangan, para siswa juga didorong untuk berpikir kritis terhadap isu lingkungan. Di bawah bimbingan guru, berbagai material bekas disulap menjadi media pembelajaran, dekorasi kelas, hingga peralatan fungsional lainnya.

Zuni Astuti, S.Pd. koordinator kokurikuler kelas VIII, mengapresiasi antusiasme siswa dalam menemukan solusi atas permasalahan sampah di sekitar mereka. "Melihat siswa berdiskusi mencari solusi untuk limbah plastik atau kertas adalah pemandangan yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa kreativitas bisa lahir dari keterbatasan, asalkan mereka diberi ruang untuk bereksplorasi," ungkapnya.

Melalui integrasi pangan lokal dan daur ulang ini, MTsN 6 Kulon Progo tidak hanya mengejar hasil akhir berupa produk. Poin utama yang ingin dicapai adalah penguatan kerja sama tim, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), dan kepekaan terhadap kelestarian alam.

Agenda ini ditutup dengan sesi pembuatan poster melaui aplikasi canva. Di sini, siswa memaparkan konsep menu lokal pilihan mereka serta rencana pengembangan kreasi daur ulang yang akan dilakukan di masa mendatang. Dengan pendekatan ini, madrasah berharap dapat mencetak generasi yang cerdas secara akademik sekaligus peduli pada kearifan lokal. (nhc)

Bagikan Artikel