Edukasi Demokrasi MTsN 6 Kulon Progo: Simulasi Pemilu dari Sekolah hingga Kemasyarakatan

2 Oktober 2026 Devy Eka Nurmalasari 22

Edukasi Demokrasi MTsN 6 Kulon Progo: Simulasi Pemilu dari Sekolah hingga Kemasyarakatan

Kulon Progo (MTsN6KP) - Ratusan murid kelas 8 MTsN 6 Kulon Progo mempraktikkan langsung proses pemungutan suara dalam Pentas Kokurikuler bertema "Pentas Demokrasi" pada Jumat (2/10/2026). Kegiatan ini mentransformasi teori kelas menjadi pengalaman praktis guna mengenalkan dinamika pemilihan umum secara nyata.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Ani Romadhoni, S.Pd., membuka acara tersebut secara resmi. Dalam sambutannya, Ani menegaskan bahwa kegiatan kokurikuler "Suara Demokrasi" ini bertujuan menghadirkan pembelajaran yang holistik dan aplikatif. Menurutnya, proses belajar tidak boleh berhenti di ruang kelas, melainkan harus membentuk karakter murid di tengah masyarakat.

Mengusung subtema "Dari Kelas Menuju Bilik Suara", delapan kelompok murid memperagakan tata cara pemilihan di tingkat sekolah hingga ranah kemasyarakatan. Simulasi ini mencakup Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos), Ketua RT, Ketua Karang Taruna, hingga Kepala Desa (Pilkades).

Para murid membagi peran secara terstruktur untuk menggambarkan alur demokrasi secara utuh. Sebagian murid bertugas sebagai penyelenggara seperti Panitia Pemungutan Suara (PPS), Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), saksi, dan pengawas. Mereka mengelola pendaftaran pemilih, membagikan surat suara, menjamin kerahasiaan bilik suara, hingga menandai jari pemilih dengan tinta. Sementara itu, para kandidat menyampaikan visi dan misi dalam sesi debat sebelum diakhiri dengan pidato kemenangan. Murid sisanya berperan sebagai warga yang menyimak program kerja calon sebelum menyalurkan hak pilih secara bebas.

Kepala MTsN 6 Kulon Progo, Septy Andari Putri, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa agenda kokurikuler ini bertujuan membentuk profil lulusan yang berkarakter, demokratis, dan bertanggung jawab. "Simulasi yang mencakup sekolah, RT, hingga desa ini dirancang agar murid memahami nilai kejujuran, keadilan, dan tenggang rasa sejak dini, sekaligus menyadari bahwa demokrasi tidak terbatas pada pemilu tingkat nasional bagi orang dewasa semata," jelas Septy. (nhc)

Bagikan Artikel

//